Telepon dari Seberang Sana

Semalam ketika aku menelpon Akmal, kalimat pembukanya membuatku tercengang. “Mbak, aku punya banyak fans, loh!” Aku dari kejauhan hanya bisa tertawa–namanya juga anak baru puber, baru merasakan gimana rasanya jadi bahan obrolan lawan jenis. Dengan bangganya, ia bercerita tingkah teman dan kakak kelasnya yang iseng menggoda. Pun saat liburan lebaran waktu itu, Hanif juga bercerita gimana perjuangan dia untuk mendapatkan perempuan idaman, yang ketika itu ia berhasil mengalahkan 2 ‘kandidat’ yang juga ngeceng si cewek itu. Tingkah mereka mengingatkanku pada masa jahiliyah dulu, hahaha.

Lalu langsung saja kutanya, “Trus gimana UTSmu, Mal?”

“Bagus-bagus semua, nggak ada yang remidi kok, Mbak! Padahal temenku semuanya remidi.”

Hmm, percakapanku dengan Akmal mengingatkanku pada masa SMP dulu. Ketika yang lain berusaha keras untuk mendapatkan nilai bagus, aku cukup sedikit belajar untuk bisa jadi juara kelas. Sombong? Bisa jadi. Dengan sudah mendapat nilai 100 berjejer di tiap UTS dan UAS, aku berpuas diri. Jadi, apa kerjaanku selama SMP? Yah, nggak ada kerjaan emang. Menjalani hobi juga sekedarnya. Aku merasa diri ini sudah sangat cerdas dan ‘sempurna’ untuk urusan akademik, jadi kerjaanku cuma itu-itu aja. Sepertinya nggak ada peningkatan kualitas diri, dan yang ada aku masuk arus pemalasan. Dulu Bapak sering sekali menasihatiku, “Mbak, jangan laptopan terus. Lihat dunia luar sana, jauh lebih canggih dari apa yang Mbak lihat di internet.” Kata-kata itu kini terbukti 3 tahun kemudian, hanya sesal yang melanda, kenapa nggak dari dulu aku belajar lebih untuk bisa punya banyak skill?

Di era yang serba canggih dan mendunia ini, skill sekecil apapun ternyata dibutuhkan suatu saat nanti. Programming, menulis, berkomunikasi, prakarya, memasak, photo editing, leadership, jago olahraga atau self defense, apapun, itu dibutuhkan! Apalagi hafal Quran, hafal hadist, menuntut ilmu agama, itu sudah merupakan kebutuhan primer dan sangat mendesak di zaman keminiman moral ini. Terbayang berapa waktu yang kubuang sia-sia dulu. Betapa sedihnya, betapa ruginya. Lihat bocah Palestina sana yang sudah berani mempertaruhkan nyawanya di jalan dakwah. Lihat anak muslim Amerika yang berhasil membuat dunia berdecak kagum atas hasil karya elektroniknya–yang bahkan jaman SMP dulu aku nggak kepikiran sama sekali, yang kepikiran cuma “Gimana aku bisa pergi dari rumah buat main sama temen“. Ah, ternyata sebegitu pentingnya peran teman sebaya dalam pembentukan karakter.

Masa puber bukanlah alasan untuk tidak berkarya! Itulah yang ingin aku tekankan ke Akmal dan Hanif. Bukan sekedar pencapaian sosial berupa ‘banyak yang ngefans’ dan ‘dibilang ganteng’.

Yah, bukannya merendahkan kedua adikku itu. Cukup bangga memang mereka punya kepercayaan diri lebih, tapi sebenarnya bukan itu tujuan yang harus dicapai.

“Dik, berprestasi bukan sekedar kamu dapet nilai bagus, atau kamu banyak fans. Kamu tau, diluar sana banyak banget orang yang berhasil. Itu dimulai dari masa SMP. Kamu juga harus mengembangkan ilmu selain pelajaran di sekolah. Inget Tapak Sucimu, hobimu, kembangin itu semua!” (Ya meskipun kata-kataku di telepon nggak seindah itu, haha.)

Yang diajak bicara cuma jawab “Hmm, yaya, iya mbak, oke makasih Mbak. Aku tutup ya. Assalamualaikum.”

Ingatlah, Dik. Aku ingin kamu jauh lebih baik dan lebih berprestasi dari Mbak. Untuk kalian semua yang membaca ini, percayalah, usaha yang selama ini kamu kerjakan akan berbuah manis pada akhirnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s