Soal Mimpi

Semester satu sudah berlalu, perkuliahan awal semester dua masih longgar dan aku masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan santai. Ternyata menjadi mahasiswa tidak semenyenangkan dan tidak semenakutkan yang kupikirkan saat sekolah dulu. Belajar dengan kesadaran sendiri dan tanpa paksaan, bahkan memilih untuk tidak melakukan apapun juga dipersilakan. Di tahun pertama, aku masih meraba-raba akan jadi seperti apa aku ke depan. Memang kesalahanku adalah aku ingin bisa menaklukkan semuanya : IP bagus, punya jabatan, dikenal banyak orang, dan menghasilkan karya. Tapi tidak semudah itu. Ketika aku menginginkan sesuatu, maka ada beberapa hal yang harus kukorbankan, tidak kuraih.

Kata seseorang, jika kamu memiliki mimpi, maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi (?) untuk mewujudkan mimpimu itu. Dengan syarat, berusaha keras. Mimpiku sederhana : jadi penemu, penulis, dan pengusaha. Hanya tiga, tidak berubah sejak SMP. Aku bisa bilang hanya, karena dulu aku pernah memiliki 30 cita-cita (fyi, tidak ada ‘dokter’ dalam daftar cita-citaku dulu. Baru sejak SMA aku mengidamkan FK, itupun karena gengsi, hehe), dan aku senang akhirnya memiliki gambaran yang jelas.

Tetapi, apakah semudah itu aku meraih mimpi, semudah aku memimpikannya?

Ketika aku mendengar cerita tentang Bapak saat kuliah dulu, baik diceritakan langsung oleh Bapak ataupun dari Ummi, aku membayangkan beliau sebagai orang yang penuh energi dan idealisme. Bagaimana tidak, kuliah sepuluh tahun di almamater yang sama denganku dengan waktu ideal empat tahun, menjadi pejabat di himpunan, buku-buku berbagai macam topik penuh di lemari kosan (bahkan separuh dari koleksinya masih memenuhi rumahku, yang sering dikomentari tetangga ‘ih rumahnya buku semua’), dan berbagai pengalaman aneh-aneh lainnya. Ternyata Bapak kini menjadi seorang pegawai swasta biasa, bekerja kantoran, berangkat pagi pulang malam seperti pegawai lainnya.

Dulu Bapak memiliki mimpi untuk punya sekolah, dan sempat terwujud saat terbentuknya bimbingan belajar saat masih di Jakarta. Setelah pindah, Bapak kembali bekerja seperti biasa, tidak ada yang berubah. Lalu apakah mimpi Bapak yang dulu dicita-citakan tidak terwujud? Apakah usahanya kandas di tengah jalan?

Kupikir tidak juga. Semangat beliau masih sama seperti dulu. Ketika aku (atau adik-adikku) melakukan sebuah kesalahan, maka beliau akan menasehati panjang lebar dengan beragam teorinya. Mungkin dulu aku sedikit kesal, kenapa tidak langsung saja memberitahu yang benar seperti apa, kenapa harus diputar-putar dulu. Sekarang aku menyadari, apa yang Bapak ucapkan adalah benar. Harus punya manajemen diri, punya planning, berani ngomong, apapun. Menurutku Bapak terlalu dini untuk mengingatkan hal seperti itu, namun Bapak menganggap anak-anaknya sudah dewasa untuk memahami apa yang beliau nasehati.

Kembali soal mimpi, bisa saja sekarang aku memiliki berbagai macam pikiran, pandangan, cita-cita, namun hidup adalah pilihan. Terkadang aku harus merelakan beberapa hal demi kenyamananku, misal ketika nanti aku memilih antara bekerja atau tetap tinggal di rumah demi keluarga. Tapi tetap saja, manusia memiliki keterbatasan. Sekalipun memiliki jabatan dan wewenang, ketika Allah berkehendak, takdir apa yang mau ditolak?

Dilihat lagi tujuan awalnya, tidak selalu semuanya harus aku lakukan dan kuasai.

17 : 47; 24/01/2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s