Lagi-lagi, tujuan hidup.

Tak pernah bosan mengangkat tema ini.

Tujuan hidup.

Sudah cukup sering aku menuliskan impian-impianku, namun aku sendiri lelah dengan segala pencapaian yang harus aku dapatkan. Ketika aku memaksa diriku untuk menjadi seseorang, yang datang hanyalah kepedihan-kepedihan atas kegalalan yang kuterima. Aku harus berhenti untuk memaksa diri menjadi sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna, dan aku harus meyakini pernyataan itu. Sudah cukup aku diteror dengan berbagai kalimat memotivasi, yang ada hanya mengerucutkan diri dalam suatu kehebatan dan mengerdilkan diri untuk berkembang. Aku terlalu berharap pada diri sendiri dan memposisikan diriku sebagai manusia yang serbabisa. Tidak mungkin aku mendapatkan itu semua dalam sekejap mata.

Aku berharap dan meneropong terlalu jauh, yang dekatpun belum kuperbaiki. Dengan segala kecacatan diri yang tertutup oleh kebohongan, aku berbangga atas segala pencapaian kecil yang tidak berdampak sekalipun bagi orang lain, hanya membesarkan hati. Terlalu sombong ketika aku menginginkan sesuatu.

Aku tidak ingin lagi seperti itu. Aku menanamkan satu hal dalam hati, bahwa hidup ini akan berjalan sesuai dengan usaha. Usaha tak ada yang langsung menghasilkan sesuatu. Butuh proses. Semua akan berlangsung ketika kesabaran dipupuk dengan keikhlasan dan tawakkal.

Saat menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan, tentu rasanya berjuta kali lipat lebih sakit daripada terjerembab dalam palung terdalam. Sulit untuk kembali merangkai langkah kembali untuk menaiki anak tangga langit impian. Saat dunia sudah merasuk dalam hati, tak ada lagi yang diharapkan selain puji-pujian manusia dan penghargaan berbentuk kertas berlapis emas. Entah, apakah hati ini yang telah membusuk karena nafsu duniawi yang merajai hati?

Ketika aku menuliskan tujuan hidup “untuk berguna bagi manusia lainnya”, ada perasaan harus berkorban demi orang lain dan ujungnya hidup ini hanya untuk mengharapkan ucapan terima kasih. Bagi siapapun yang pernah mematri kalimat tersebut dalam kitab suci impiannya, jangan sakit hati apabila sulit sekali untuk meraih impianmu sendiri. Karena tujuanmu hanya manusia. Dan itu yang pernah kurasakan.

Biarlah mimpi itu membawamu untuk mendekatkanmu pada Sang Pencipta. Bukan untuk siapa-siapa. Ketika kau gagal, tidak perlu mengambinghitamkan orang lain atas kegagalan itu. Sejatinya kau yang memilih, biarkan berproses, dan petik hasilnya sebagai modal untuk melaju lebih jauh. Ketika kau kembali dengan kemenangan, jangan pernah ingat-ingat lagi kemenangan itu, karena sejatinya kemenangan itu menipu. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terbaik, biarkan Tuhan yang menilai.

Diri ini perlu untuk berkembang. Dirimu pun perlu untuk mengkaji lebih jauh tentang makna hidup dan menghidupi. Hiduplah untuk dirimu sendiri, dan untuk Tuhanmu—atau untuk siapapun kamu hidup. Karena kau akan kembali dengan siapa yang menjadi alasanmu untuk hidup, bukan?

16/04/16 18:54

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s