Bertanya Lagi

Liburan 3 bulan bisa saja saya habiskan di rumah dan menikmati udara hangat Sidoarjo. Tapi mengapa saya berada di sini, sekarang, di Bandung, melakukan kegiatan yang bagi orang lain mungkin enggan untuk menjalaninya?

Mengikuti serangkaian diklat divisi, menjalani ospek jurusan, mengurus acara penerimaan mahasiswa baru di Gamais dan MSTEI, merancang acara kaderisasi Persma. Menyenangkan memang, tapi tentu saja ada banyak hal yang harus dikorbankan demi menjalani setiap kegiatan bertema kaderisasi seperti ini.

Orang lain mungkin melihat saya agak kaku, merasa semuanya harus dilakukan. Baru saja kemarin saya tak sengaja kelepasan cerita stress-nya saya saat mengikuti diklat, haha. Kalau tidak dicoba sekarang, kapan lagi? Entahlah, liburan ini saya seperti ingin memaksa diri sendiri, melihat sejauh mana kemampuan saya dalam mengikuti agenda-agenda itu. Mungkin saja saya salah dalam memilih, tapi boleh saja saya mencoba, kan? Agar banyak pengalaman, kalau kata Bapak. Pandangan orang tua sendiri terhadap kegiatan yang  saya lakukan sepertinya senang-senang saja, alias tidak ada masalah. Bahkan mereka terlihat senang ketika saya cukup aktif, haha, gara-gara dikira kurang pergaulan.

Tetap saja, di sisi lain, saya belum rela. Kaderisasi awal terpusat di ITB masih jauh kurang terkondisikan daripada di Gamais, membuat sebagian dari teman-teman merasa enggan dan lelah. Banyak memang yang harus dikorbankan, bahkan idealisme jadi terkikis akibat banyak terpapar pandangan-pandangan yang menodai hati yang benar-benar tulus. Tapi, kalau tidak ada yang mau bergerak, siapa yang hendak meneruskan? Belajar ikhlas, belajar berjuang, belajar menghargai arti waktu dan kesempatan…

***

Malam itu. Saat interaksi dengan angkatan atas HME ITB saat ospek jurusan. Ketika mereka menanyakan, “Apa sebenarnya tujuanmu berada dan berjuang di himpunan ini?”, ada seorang dari 2015 menjawab–bukan saya–dan sepertinya jawabannya sudah dianggap baik. Intinya mengenai tujuan akhir.

Saya tersentak akan sesuatu. Tanggapan dari bandito—angkatan 2013 atas jawaban teman kami tadi, cukup memberi pencerahan atas segala kerumitan dan penat yang akhir-akhir ini melanda.

“Kami disini nggak butuh kamu, tapi kami ingin kalian memiliki tujuan akhir yang nantinya himpunan ini bisa membantu kalian untuk mencapai tujuan tersebut.”

Ya, hidup ini pun hanya washilah. Perantara. Perantara untuk mencapai tujuan akhir yang sebenarnya. Surga. Yang telah Allah janjikan bagi para umatNya yang dengan ikhlas mengimani, mengamalkan, dan mengaplikasikan Islam dalam kehidupannya.

Tersadar lagi.. Saya telah berbuat apa? Sesuaikah dengan tujuan akhir saya? Dengan segenap pengorbanan atas diri saya sendiri, apakah ini cukup untuk menebus segalanya?

Mari bertanya lagi, kepada diri sendiri.

 

Dengan hati yang berusaha ikhlas menapaki hari,

Mutia.

10/08/2016 10.22

Advertisements
Posted in ITB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s