Random Thought

Tadi pagi, saya sempatkan untuk mampir ke Rumah Cantik Annisaa yang diadakan Annisaa Gamais ITB di Sabuga. Seusai acara talkshow yang diisi oleh Bu Ledia Hanifa, Teh… (siapa ya lupa, yang bikin rumah belajar), Teh Meyda Sefira dan Ria Ricis, saya mencoba berkeliling booth di luar auditorium dengan Hanan. Oke salahkan saya yang tidak datang tepat waktu sehingga saya tidak bisa untuk bercerita lebih banyak tentang talkshow. Tapi ada satu yang menarik, yaitu penawaran cek kulit gratis oleh produk kecantikan ternama. Sip mari kita coba.

Ternyata alatnya adalah semacam mikroskop. Jadi alat itu bisa memperbesar citra dari permukaan kulit yang dapat menampilkan permukaan kulit pada layar. Bentuknya compact, tersimpan dalam kotak, dan tersambung ke 2 kanal. Kanal pertama adalah power supply, dan kanal kedua tersambung kabel dengan ujung probe mikroskop dan dilengkapi dengan lampu cahaya putih. Mirip seperti kateter, tapi penggunaannya mirip seperti USG.

(oke sesungguhnya saya nulis dengan hati yang berdebam-debam, saking ingin menjelaskan tapi sulit mencari kata-kata yang pas)

Lalu di layar ditampilkan wajah permukaan wajah saya yang horor; berminyak. dan jerawatan.

“Wah teh lihat nih, sudah muncul pigmentasinya.” “Nih teh, pori-porinya memang besar, jadi jangan lupa pakai toner setelah cuci muka ya teh” “Kalau minyaknya semakin banyak, lama-lama akan terbentuk sebum teh, warnanya putih susu kayak gitu tuh” *sambil nunjuk* *yeiye mbak itumah jerawat*. Saya cuma ngangguk-ngangguk, senyam-senyum bingung harus jawab apa.

“Teh, itu sebenarnya permukaan kulit bagian mana?”

“Oh itu bagian dalam dari permukaan luar.” (dermis mereun, dugaan saya)

Hebat juga, alat yang ‘sesimpel’ itu bisa mempermudah praktisi kesehatan membuat suatu kesimpulan tentang kondisi kesehatan yang dialami. Yah meskipun mbaknya bukan dokter, saya anggap pernyataan dia benar soal anatomi permukaan kulit saya. Lalu saya mikir lagi, cuma ‘diusap-usap-pakai-kabel’ seperti itu saja berbayar. Gimana kalau saya minta kulit saya dirawat sama dokter dengan alat yang lebih canggih. Atau lebih mendasar lagi, bagaimana masyarakat yang memang berada di kondisi ekonomi yang tidak cukup, ingin memeriksakan dirinya, sekedar tahu sakitnya apa, harus mengeluarkan uang?


Dalam suatu prosedur pemeriksaan kesehatan, ada yang namanya anamnesis, alias si dokter akan melihat dan bertanya kondisi pasien saat itu, lalu memeriksa tanda vital pasien secara berurutan. Lalu dokter baru akan mendiagnosis penyakit. Kalau tidak bisa dokter selesaikan sendiri, dokter akan menggunakan alat bantu atau menyerahkan sepenuhnya kepada lab untuk diminta hasilnya.

Ya, duit lagi. Posisi dokter di Indonesia bisa dianggap sebagai penentu keputusan nasib kesehatan pasien. Padahal saya pikir, kalau saja setiap orang (saya juga dong) punya kebiasaan berolahraga, makan makanan sehat, diberi penyuluhan kesehatan berkala, tahu langkah-langkah untuk menangani keadaan darurat, atau bahkan pengobatan tradisional, dokter-dokter di Indonesia sudah nggak laku, haha.

Ah, jadi ingin bikin suatu komunitas. Yang isinya relawan yang benar-benar siap dan sigap untuk melayani kesehatan masyarakat, terutama dengan ekonomi menengah ke bawah. Masih ingin, hehe.

Kembali lagi ke soal alat kesehatan. Kalau kata bapak dosen, teknik biomedis memiliki cita-cita yang luhur untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia, dimulai dari pelayanan kesehatan (hem lupa juga saya ucapan langsungnya seperti apa). Tapi, teknologi diciptakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan, bukan? Persebaran penyakit di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, seperti cuaca, lingkungan, kebiasaan, bahkan tingkah laku. Kalau masyarakatnya kurang mampu, lalu untuk apa kita berusaha menciptakan alat yang memang diluar jangkauan mereka? Andai birokrasi mengenai alat kesehatan bisa dipermudah.

Tuh ya, ngelindur lagi.

Saya memandang dunia terus bergerak dan segenap manusia sibuk mencari solusi terbaik dalam permasalahan yang ada. Sulit memang mencari konklusi apa sebenarnya masalah yang hendak diselesaikan dan tujuan yang hendak dicapai. Saya sadar memang saya dasarnya orang yang senang mengkritisi sekitar, gemas terhadap kesalahan-kesalahan yang muncul, tanpa sadar penyebab masalahnya adalah saya sendiri (nahloh). Maksudnya begini, terkadang permasalahan kesehatan itu muncul akibat pikiran yang menghantui, padahal memang manusia tidak ada yang diciptakan sepenuhnya sehat (memang standar sehat itu siapa yang bikin? Manusia juga, kan?). Dan sejatinya sehat bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Standar sehat masa kini adalah dengan mengonsumsi vitamin dan obat-obatan mahal, check up di pelayanan kesehatan ternama, gym di tempat mahal, tanpa peduli lagi dengan kesehatan ruhiyahnya.

Itulah, sejatinya obat terbaik untuk tubuh kita, menurut saya. Kembali pada fitrahnya, dengan berpikir positif, bertutur kata baik, bentindak tanduk dengan sopan dan santun. Kalau kata bapak dosen biokimia, sebenarnya orang yang sakit berat, misal kanker, umurnya bisa lebih lama apabila ia lebih ikhlas dalam menerima penyakitnya. Sesimpel melaksanakan wudhu dengan benar, sholat dengan benar, ibadah yang benar, atau bisa dikatakan melaksanakan rukun iman dan islam dengan benar, kita–manusia sudah selesai dengan urusannya.

Post ini sebenarnya pengingat untuk saya. Semoga bisa diambil manfaat, meskipun berbau curhat dan pernyataan penuh opini. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s