Pilihan Untuk Maju

Ada banyak jalan yang telah kita ambil tidak memiliki pilihan untuk memutar balik. Kita tidak bisa kembali ke titik awal. Kita tidak bisa mengulang kembali dan mengubah keputusan yang dulu pernah kita buat. Dan untuk hal-hal yang seperti itu, kita perlu lebih banyak sabar dan lebih besar iman. Sebab memang bisa jadi, jalan inilah yang menjadi ladang amal terbaik kita. Meski kita tertatih-tatih menjalaninya. (Kurniawan Gunadi)


Post pertama dari tumblr Masgun yang baru saja dibuka seakan menyindir diri. Sedikit menggambarkan perjalanan sedari Desember tentang bagaimana akhirnya saya memilih untuk maju. Tentang memilih ladang amal yang harus ditanami dari awal sampai akhir, bahkan masih memilih saja galaunya setengah mati. Setelah menimbang-nimbang, berkali-kali berubah pikiran, ternyata jawabannya satu : aku-mau-maju. Mungkin agak terdengar ambisius, tapi ketika hati sudah memilih, maka sulit untuk berpaling. Meski tahu konsekuensinya.

Ya, saya memilih untuk mengambil berkas pendaftaran calon pemimpin umum Persma. Kalau ditanya alasannya, jujur saja, hanya ingin mencoba. Itu setelah berkali-kali istikharah, setelah sering menelepon Bapak dan Ummi tentang pendapat mereka. Bahkan mereka tidak menyanggah sama sekali, “Semua terserah Mbak,” katanya. Memilih menjadi seorang aktivis berarti harus menyiapkan komitmen dan evaluasi. Harus ada persiapannya, dari awal, perjalanan, sampai akhir. Harapannya akan ada hal-hal baik yang ditinggalkan seusai kepengurusan, bukan memperkeruh masalah atau menumpuk tugas di kepengurusan selanjutnya. Setidaknya itulah pesan-pesan Bapak yang disampaikan secara implisit.

Bapak seperti mudah sekali menerjemahkan kondisi anaknya saat ini : pusing mikir proker, mau hearing, gimana nyeimbangin antara akademik dan amanah. Lalu Bapak bercerita. Bapak sudah pernah ada di posisi saya, ketika itu ingin mendaftar menjadi kahim Teknik Kimia ITB. Berdua dengan temannya, mereka maju, memaparkan idenya masing-masing. Ternyata yang terpilih bukan Bapak. Bapak cukup menjadi sekretaris saja. Akhirnya bersama-sama mereka memimpin, istilahnya menjabat menjadi BP. Bapak bangga sekali memamerkan surat yang ia buat, ada namanya yang terpampang beserta tanda tangan. Yasudahlah, memang Bapak suka membanggakan masa lalunya. Yang saya tarik hikmahnya adalah Bapak tidak pernah menyesal untuk berusaha.

Saya dan teman saya maju. Entah visi-misi-proker-organigram-dll apa yang akan dia bawa. Kami bersaing secara sehat, bersama dengan latar belakang masing-masing. Saya juga memiliki segenap beban akademik BME yang padat (sebenarnya masih kurang pede maju dengan keadaan seperti ini), begitu pun dengan Mahbub di Planologi. Ibaratnya sekarang kami (atau saya aja yang lebay) harus menyiapkan diri untuk hidup dalam tiga kuadran : akademik, Persma, dan pribadi. Tapi sungguh, Persma memang hanya unit Sunken, tapi pengaruhnya amat besar di dunia perpolitikan kampus. Itulah yang membuat saya agak pusing dalam merencanakan Persma di 2017 ini, begitu banyak informasi mengalir deras yang terkadang berlalu begitu saja sebelum banyak dikaji. Sedang butuh banyak teman diskusi untuk berbagi pikiran, karena saya pikir saya tidak bisa sendirian untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di kampus (yang ini curhat).

Kata dosen tadi siang, tidak ada yang namanya gagal, yang ada hanya gagal karena tidak pernah mencoba. Kalau kata quotes jaman UNAS-SNMPTN-SBMPTN dulu, “apa yang sudah direncanakan untukmu tidak akan menjadi milik orang lain”. Selamat berusaha, selamat bersaing secara sehat.

409791

18/01/2017 22.48

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s