Semester 3

Setelah sekian lama menunda, saya akhirnya bisa berbagi cerita tentang perjalanan selama semester 3 ini.

Kesibukan liburan bermula ketika saya menyita waktu menjadi panitia P3R Salman. Meskipun harus terbentur dengan jadwal kaderisasi wilayah, dengan senang hati saya hadir untuk menjadi LO pengisi pembukaan acara keputrian P3R, yaitu Bu Qoriah. Lalu menghabiskan waktu awal puasa untuk mengikuti diklat terpusat Integrasi, dengan harapan saya bisa menjadi panitia lapangan di Integrasi nanti. Lalu masuklah saya dalam dunia per-mentor-an, bersama teman-teman seangkatan Claravis Ascarya, dengan agenda memeragakan yel-yel sebanyak 16 kali saat malam pelantikan (sungguh ini sangat melelahkan :(( ). Saya ingat ketika bolos diklat dikit-dikit dengan alasan mengikuti osjur HME alias MBC. Berlari-lari saat running maze, ketakutan saat harus berbaris cepat di hadapan danlap, dan memberanikan diri menjadi koordinator angkatan. Masa-masa osjur dan wisuda menjadi hari terberat dan menyibukkan, menjadi masa dimana saya sering cepat tertidur sehingga lupa membersihkan diri. Juga saat menjadi humas Sekolah Cakrawala, sibuk menghubungi pembicara, mulai dari menteri, kakong, K3M, ketua unit sebelah, dan seluruh anggota Persma, memelas meminta semua kerabat untuk hadir. Juga menjadi panitia Idul Adha Gamais, memotong-motong sapi serta berbagi keceriaan bersama anak-anak kampung. Kelabakan mengurus Windows MSTEI. Menjadi anggota kabinet sospol lewat jalur belakang (haha) juga sangat menyenangkan. Jujur, hari-hari saya sangat efektif dihabiskan dengan mengikuti agenda(-agendaan) saat itu, meski pulang larut malam menjadi hal yang biasa.

Saya bangga akhirnya punya jurusan.

Hari pertama kuliah, hati berdebam-debam. Rasanya saya ingin membaca semua buku, mendownload semua materi, dan memahami semua apa yang dikatakan dosen. Tapi banyak sekali. Saya kaget baru tahu dunia jurusan ini ternyata hidupnya padat dengan tugas dan praktikum. Waktu tersita untuk membuat tugas pendahuluan, jurnal, dan laporan praktikum. Berusaha mencerna perkataan dosen namun terlampau jauh. Harus rela dipanggil dosen berkali-kali di kelas karena se-almamater SMA (dan kayanya cuma saya yang sering kena). Sempat hampir menyerah di penghujung semester, saat melihat semua nilai ujian dua besarnya separuh dari nilai ujian satu. Tapi rupanya Allah dan orang tua masih sayang kepada saya, mereka mengajarkan saya untuk ikhlas dan tidak berputus asa.

170126_0004
Bersama Pak Zeily, dosen biokimia terbaik, motivasi saya untuk tetap melek selama kuliah.

Di penghujung semester pula, saya berkesempatan untuk menjadi finalis lomba karya tulis di Unair, bersama 2 orang lainnya, meski harus puas hanya tampil untuk presentasi, tidak sebagai pemenang. Lalu saya berkesempatan pula untuk menjadi ketua YJS, acara Persma, meski yang datang tidak lebih dari sepuluh. Sempat merasa gagal menjadi seorang pemimpin, gagal untuk mengatur diri. Ternyata saya masih punya banyak teman yang baik, yang mau menemani saat saya sudah nggak bisa ngapa-ngapain lagi.

Saya sadar, dunia bukanlah untuk satu orang. Saya ingin berbagi.

Motivasi hidup saya sebenarnya dangkal sekali. Cukup saat bertemu orang lain, melihat mereka tersenyum, saat mereka mau berbagi cerita, semangat saya tumbuh. Sesederhana itu. Saya yang mudah sekali terpengaruhi orang lain, senang saat orang lain ternyata mendukung apa yang saya inginkan. Saya sebenarnya tidak berharap orang lain untuk berbagi telinga untuk saya. Dasar saya orangnya ekstra-ekstrovert dan tidak peka. Terkadang justru saya yang sering mengabaikan orang lain. Terkadang saya jadi sibuk memikirkan diri sendiri.

Tapi beneran, aku sayang kalian semua. Aku nggak tau lagi gimana cerita semester ini kalau nggak ketemu kalian yang siap menerima aku apa adanya. Rasanya jadi kembali kayak anak kecil, banyak maunya. Banyak tingkah. Tapi disana, aku jadi menemukan diriku sendiri. Egois ya? Hehe. Maaf ya. Kebanyakan maaf kan jadinya.

Persma. Gamais. MSTEI. HME. BME. Sahabat-sahabat baru yang menginspirasi, juga sahabat-sahabat lama yang setia menemani. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau menghabiskan waktu panjangnya untuk berdiskusi dengan saya, atau sekedar menemani jajan di depan Salman, atau sekedar duduk di koridor Salman selagi membunuh waktu. Terima kasih juga untuk seseorang yang sejak dulu berbaik hati berbagi pundak saat saya sudah nggak tau harus berbuat apa. Kita harus kuat, ya!

***

Kini saya memang sudah harus fokus untuk mengurus Persma saja. Meski sudah selesai hearing, masih banyak agenda-agenda yang harus dicatat dalam timeline kepengurusan. Ya meskipun belum kepilih, boleh lah curi start duluan (sok ambis). Minggu-minggu ini adalah saat yang tepat untuk panik. Melihat deadline akademik berjejer rapi di agenda, bersaing dengan agenda Persma yang munculnya tiba-tiba. Saya memang bukan tipe orang yang rapi-rapi banget, tapi saran Bapak untuk memiliki jurnal akhirnya saya taati. Akhir semester lalu–tepatnya Desember, merupakan awal dimana saya mulai sibuk memikirkan apa yang akan saya bawa saat pencalonan. Kegelisahan akhirnya muncul menjadi nyata. Tapi, sudahlah, itu tugas saya. Bismillah. Semoga Allah memberi yang terbaik.

419327
Bonus foto – muka bahagia after pembantaian (baca : hearing akhirnya selesai!).

***

Kosan, 26/01/2017 21.03

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s