Part 1 : Memilih dan Terpilih

[Post ini adalah sebuah tulisan berisi cerita bagaimana saya bisa memutuskan untuk maju memimpin sampai akhirnya terpilih. Tanpa ada maksud apapun. Tulisan ini ditujukan untuk diri saya sendiri, Ummi, dan Bapak saya. Bukan apa-apa, karena merekalah yang terus menyemangati dan menginspirasi saya untuk menggapai mimpi apapun.]

Mutia, perempuan, berhijab, caleuy, mudah panik. Saya bukanlah seorang yang ambisius. Bahkan menurut beberapa orang, saya terkesan pasrah, ngga ada agresif-agresifnya kalau punya keinginan. Sebagai seorang ESTP, saya menikmati diri saya berada di lingkungan yang berbeda, yang memberikan banyak pengalaman. Saya yang tidak bisa diam, terus mencari dan memilih wadah apa yang kali ini harus diseriusi, dan saya memilih Persma. Sebuah unit media, yang letaknya berada di Sunken, jauh dari peradaban Salman dan sekre HME. Di belakang, bawah tanah. Berada di tengah-tengah sekre unit musik, kajian, dan budaya yang setiap hari turut meramaikan suasana Sunken, terutama di sore dan malam hari. Bagi para mahasiswa ITB, daerah Sunken saat senja bagaikan pasar malam yang tak pernah sepi, sampai akhirnya satpam menghampiri pukul 9 malam, mengajak para mahasiswa untuk segera berkemas dan kembali 😀

Keinginan saya untuk menjadi seorang pemimpin umum sebenarnya sudah timbul sejak Oktober 2016. Saat itu, saya gemas dengan kepengurusan sebelumnya yang hilang-hilangan dan kurang mewadahi aspirasi anggotanya. Sebagai sebuah unit yang mewadahi mahasiswa dalam kesamaan minat dan bakat, seharusnya Persma bisa mengajak anggotanya untuk lebih banyak berkarya dan mengembangkan kemampuan. Saya sering sekali ngeluh dengan sekjen lalu, ‘Kak harusnya tuh kita ada pelatihan ini’ ‘Kak kok kakak-kakak yang lain ngga ada sih’ ‘Kak aku pengen banget si Persma ada blabla’. Masih kebanyakan ngeluh daripada gerak.

Beberapa hari kemudian, dibuka pendaftaran ketua YJS (Young Journalist Summit) Persma, dimana proker itu terdapat di divisi ekstrakampus. Saya yang memang staff di divisi itu tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mengiyakan saat tawaran itu diberikan kepada saya. Beberapa saat berselang. Ternyata, masa mengurus YJS merupakan masa-masa yang sulit. Publikasi, keuangan, acara, logistik, semua divisi secara umum belum optimal dalam menjalankan tugasnya. Memang kesalahan saya sebenarnya, karena saya mengurus YJS bersamaan dengan masa-masa UTS, tubes, dan lomba. Saya belum bisa mengatur waktu saat itu. Maka saat YJS selesai, saya berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi yang terbaik setelah ini. Dampak YJS seperti cambukan yang amat dahsyat, karena efeknya tidak hanya ke pribadi, tapi merambah ke hasil UTS dan IP yang kacau (T.T).

Desember lalu, Persma telah mengadakan LKO yang dikhususkan bagi angkatan 2015 yang selanjutnya akan meneruskan tongkat kepengurusan Persma. Di akhir LKO, dibukalah pendaftaran PU. Saya sudah ada niat, tetapi ragu. Saya menunggu orang lain mendahului saya. Namun nyatanya, sampai Januari lalu, belum ada yang mendaftar. Sampai hari setelah tenggat masa pengumpulan berkas terakhir, diumumkan ada dua kandidat yang maju, yaitu saya dan Mahbub. Saya sangat mengapresiasi kegigihan dia, meskipun baru memasuki dunia Persma, tapi semangatnya untuk memperbaiki dan memimpin unit ini sangat besar. Serangkaian hearing kami jalani, sampai akhirnya tanggal 28 Januari 2017, hasil musyawarah mengumumkan saya terpilih menjadi pemimpin umum Persma periode 2017.

yey-pu-baru_170207_0016

Apa yang membuat saya ragu untuk memimpin adalah satu : apakah saya mampu? Sebagai seorang perempuan, muslimah, anak perantauan, apakah saya sanggup?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s