Cerita April : Ketakutan, Emosi, dan Ukhuwah

Apa sih masalah-masalah anak muda sekarang?

Ketakutan akan masa depannya, ketakutan akan diri sendiri, dan ketakutan akan lingkungannya.

Takut dalam psikologi direpresentasikan sebagai suatu emosi yang abstrak dan munculnya tak terduga. Terkadang ketakutan itu tidak disadari oleh manusia, dan akhirnya suatu saat akan tersadar bila telah terjadi aksi (contoh : berlari ketika dikejar hewan buas dan baru tersadar bahwa ia takut dengan hewan itu setelah berlari. Kesadaran merupakan kunci penting pengenalan emosi dan keadaan diri) [William James]. Manusia selalu dalam dilema eksistensial. Di satu sisi ia merindukan kebebasan, namun di sisi lain ketika ia bebas, ia menjadi tak berdaya dan takut (Fromm, 1997). Lucu ya?

Wajar bila dalam ranah kompetisi, rasa takut seseorang menjadi meningkat. Takut kalah lalu terkucilkan, takut terlihat lemah lalu terabaikan. Padahal jika setitik pencapaian saja sudah diraih, hilanglah semua rasa takut itu. Coba, pasti teman-teman sering merasakan hal ini, terutama mahasiswa, haha. Dikejar-kejar ibu TU gegara nelat ngumpulin LPJ (nahlo inimah saya), takut nilai kecil terus dianggep bodoh, dll, dsb, dkk.

Disinilah kekreatifan kita dibutuhkan dalam pengaturan emosi. Terkadang, di posisi yang amat rendah, seseorang akan menjadi amat sedih. Lalu di posisi yang menyenangkan, seseorang itu akan terlampau bahagia. Padahal, apa yang ada di dunia seluruhnya adalah ujian bagi manusia. Akademik, organisasi, hubungan pertemanan, ya paling itu-itu saja kan masalah yang sering kita hadapi?

Sesulit itu ya untuk memahami manusia? Haha. Sangat kompleks dan dinamis.

Itulah yang saya pelajari selama menjadi pemimpin. Baru dua bulan, tapi ada saja cerita-cerita dari para BP maupun anggota yang khawatir atas dirinya sendiri. Dulu sebelum saya terpilih pun perasaan-perasaan itu muncul : nggak enakan, selalu berasa bersalah, benci dengan diri sendiri, ingin lari dari kenyataan. Tapi masalah itu ada untuk menguji diri, setinggi apa tingkat keimanan yang dimiliki oleh seorang hamba. Menjadi pemimpin juga berarti harus menjadi orang yang paling ‘waras’ diantara anggota yang sudah kelimpungan dengan masalahnya sendiri, yang paling tabah, dan setia menemani dari awal, perjalanan, dan akhir. Repot? Iya! Tapi disanalah indahnya. Bersama-sama belajar dan bekerja untuk mencapai tujuan semestinya. Bahagianya nggak sendirian, tapi sama-sama. Itulah ukhuwah, saling menguatkan ketika lemah, saling menasihati ketika khilaf, saling berbagi. Ukhuwah (seharusnya) tak terbatas pada lingkaran teman-teman Islam, tapi seluruh pertemanan, organisasi, dan hubungan dengan sesama.

Beuh, saya ngomong begini bukannya yang paling bener lho. Tapi ini hasil pengamatan saya hari ini, kira-kira sudah ada 3 orang yang mengeluhkan perasaannya. Rasanya saya ingin memeluk mereka semua dan berbisik : akupun pernah merasakan hal yang sama! (Tapi ga mungkin karena lagi di luar dan salah satunya adalah cowo haha).

Beberapa keahlian yang seharusnya mulai diasah ialah : bagaimana mengatur emosi, bagaimana mengatur waktu, bagaimana memprioritaskan pekerjaan yang harus diselesaikan. Itu semua tidak bisa instan, tiap orang variasi permasalahannya berbeda, dan penyelesaiannya hanya dimiliki oleh sang empunya masalah. Ya bolehlah minta advice dari teman-teman, tapi tetap, yang memutuskan adalah diri sendiri, ya ga? Masa-masa berkuliah justru seharusnya menjadi saat yang tepat untuk melatih diri. Kadang kita nggak sadar, tapi dengan sendirinya akan terbentuk seiring dengan bervariasinya problem dan jalan keluar yang wallahua’lam tiba-tiba ada aja. Kuncinya adalah ikhlas 🙂

Rasanya mau ngomong ke semua orang (dan diri sendiri), “Ini masih tingkat dua, belum nanti tingkat tiga dan empat, belum lagi lulus dan melangkah ke jenjang selanjutnya. Jangan menyerah!”

(Kayanya kalau ada penelitian tentang stres dan emosi anak ITB yang diseriusin bakal seru dan menarik) (Trus random)

Mahasiswa itu sudah tergolong sebagai dewasa muda (padahal kalau di Islam mah akil baligh sudah tergolong dewasa), penentu masa depannya adalah dirinya sendiri. Kita harus tahu saat yang tepat untuk membuka dan menutup telinga. Mengambil tindakan dan menanggung konsekuensinya sendiri. Orang lain mana mau ikutan tanggung jawab! Tapi enaknya jadi mahasiswa, masih ada waktu empat tahun untuk berbenah diri sebelum terjun ke masyarakat dan dituntut untuk tidak boleh salah. Salahnya masih bisa diperbaiki. Kalau nanti? Jangan harap. Lulus, kerja, menikah, membina keluarga. Tak akan sempat.

Jadi kesimpulannya? Jangan menyerah dengan diri sendiri! Semoga kelak kita akan menjadi orang-orang sukses yang membangun bangsa dan negara, aamiin (loh jadi visioner gini) (yaudah gapapa lah ya). Semoga kelak Allah mempertemukan kita di syurgaNya, sebagai kawan yang pernah berjuang bersama dalam kebaikan.

Untuk : semua kerabat Persma yang telah berjuang bersama, dan semua teman-teman. Ini masih awal, terus kepulkan asap semangat sampai akhir nanti 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s