#3 – Ramadan Diary 1438 H

(Written on June 21)

Well, happy birthday to me.

Actually there’s no special thing that make this day different, and I don’t hope so. The thing that make my day more special : its lie on last 10 days of Ramadan. Hope we’ll get best reward by our pray and worship in this Ramadan. Continue reading “#3 – Ramadan Diary 1438 H”

Advertisements

#2 – Diary Ramadan 1438 H

Beberapa hari mengikuti daurah di sebuah rumah Quran, membuat saya tersadar bahwa potensi setiap anak berbeda-beda, disebabkan oleh banyak faktor. Faktor utama yakni lingkaran pertama dalam hidup bernama keluarga. Kedua, adalah niat. Dalam hal ini, ‘potensi’ yang dimaksud merajuk pada proses menghafal Quran.

Ada anak yang sejak kecil dididik oleh orang tuanya untuk menghafal Quran. Setiap pagi, dipaksa oleh orang tua untuk tahajud berjama’ah, lalu sholat Shubuh berjama’ah, lalu dilanjutkan tilawah bersama. Salah satu putra ustadzah pembina rumah Quran yang berusia empat tahun kini sudah hafal Ar-Rahman, meski sedikit terlupa. Saya yakin hal itu tidak didapatkan dalam satu malam, namun didapatkan dari proses pembelajaran panjang, bahkan sejak dalam kandungan.

Membentuk anak menjadi pribadi yang baik merupakan buah kerja sama pengajaran Ibu dan Ayah (meski tak menutup kemungkinan jika hanya satu orang saja). Jika visi keluarga sudah direncanakan dengan matang, maka akan jelas bagaimana orang tua akan memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Ada yang ‘jalur hidup’ keluarganya merupakan keluarga pesantren, sehingga saat SMP sudah hafal genap 30 juz. Ada pula anak yang bersekolah di umum, namun saat liburan dipaksa untuk mengikuti daurah dan sejenisnya.

Kondisi lain, ada pula yang baru tersadar saat beranjak dewasa akan pentingnya menghafal Quran. Maka, atas dasar niat, ia berusaha dan Allah kuatkan hatinya untuk tidak berputus asa dalam mempelajari Al Quran. Mungkin memang lebih sulit karena sebelumnya belum terbiasa untuk intens berinteraksi dengan Quran, namun hikmahnya akan jauh lebih terasa, karena hidayah menyapa saat akalnya sampai. Kembali lagi kepada kemauan dan semangat memperbaiki diri.

Catatan lagi, perlu diingat bahwa mempelajari Al Quran, baik tadabbur Quran, membaca dengan baik, dan menghafalkannya, bukanlah masalah banyak-banyakan ilmu atau banyak-banyakan hafalan, tapi bagaimana untuk menyelaraskan antara ilmu yang didapatkan, hafalan yang menguat, dan refleksi dari apa yang telah dipelajari. Kalau kata ustadzah, apabila hafalan sudah disetor, maka tanggung jawab untuk memuraja’ah melekat sepanjang hidup.

Bagaimana kalau memang ditakdirkan untuk berada dalam keluarga yang bukan jalur pesantren? Ya syukuri saja. Merupakan suatu kenikmatan saat Allah memberi kita kesempatan untuk memperdalam Islam tanpa paksaan. Niatkan saja kalau sudah berkeluarga nanti akan memberikan pengajaran Islam yang terbaik bagi anak-anak.

Tenggilis Mejoyo, 13/06/2017 1:24

#1 – Diary Ramadan 1438 H

Di hari kelima Ramadan

Hari itu, saya meminta Bapak untuk mengirimkan sebuah dokumen. Tiba-tiba, handphone berdering. Telepon dari Bapak.

Usai berbincang sedikit, tiba-tiba Bapak bertanya sesuatu.

“Mbak, ada beasiswa S2 nggak?”

“Beasiswa ITB? Mbak tahunya beasiswa fast track, yang kuliah 5 tahun. Tapi Mbak kan nggak mau ambil itu. Mbak mau lulus, terus setahun nggak ngapa-ngapain. Mbak juga sudah cerita sama Bapak.”

“Nggak ngapa-ngapain, emang mau ngapain?”

“Mau ngehafal aja, setahun. Terus baru S2 tahun depannya.”

“Lah ya itu namanya bukan nggak ngapa-ngapain. Kok lama banget Mbak?”

“Ya kan ngehafal itu nggak gampang, Pak.”

Lalu Bapak mulai memberi banyak nasihat, “kamu itu punya waktu 24 jam. Coba aja 12 jam dipake buat ngehafal Quran, bisa aja kamu selesai cuma 6 bulan.”

Dalam hati saya mengaminkan, meski sedikit ragu. “Ya, dicoba aja lah ya. Semoga.”


Tahun lalu, saya pernah menangis sejadi-jadinya, mengadu pada pundak seorang sahabat. Saya malu. Saya tidak punya bekal apapun. Saya merasa saya bukan siapa-siapa di hadapanNya. Sekitar satu jam, air mata mengalir, lalu menyembunyikan wajah dari cahaya karena malu terlihat oleh siapapun, meski akhirnya kedapatan juga. Menangis, tak berkata apapun, hanya menyesali diri. Lalu usai menenangkan diri, saya kembali ke kosan, dengan kantung mata yang menebal.

Beberapa jam kemudian, dengan segala usaha untuk menghentikan anak sungai air mata, sahabat saya mengirimkan sebuah tautan berisikan video. Ucapan seorang ustadz yang dinukil dari nasihat ulama; yang membuat kantung mata saya lebih tebal lagi.

“Jika tak mampu bersaing dengan para shalihin dalam ibadahnya, berlombalah dengan para pendosa dalam istighfarnya.”


Semoga Allah tak pernah menghapus semangat kita untuk istiqamah berinteraksi dengan Quran, lewat cara apapun.


Catatan random hari ini; semoga catatan selanjutnya akan jauh lebih rapi.

02/06/2017 22:30