#2 – Diary Ramadan 1438 H

Beberapa hari mengikuti daurah di sebuah rumah Quran, membuat saya tersadar bahwa potensi setiap anak berbeda-beda, disebabkan oleh banyak faktor. Faktor utama yakni lingkaran pertama dalam hidup bernama keluarga. Kedua, adalah niat. Dalam hal ini, ‘potensi’ yang dimaksud merajuk pada proses menghafal Quran.

Ada anak yang sejak kecil dididik oleh orang tuanya untuk menghafal Quran. Setiap pagi, dipaksa oleh orang tua untuk tahajud berjama’ah, lalu sholat Shubuh berjama’ah, lalu dilanjutkan tilawah bersama. Salah satu putra ustadzah pembina rumah Quran yang berusia empat tahun kini sudah hafal Ar-Rahman, meski sedikit terlupa. Saya yakin hal itu tidak didapatkan dalam satu malam, namun didapatkan dari proses pembelajaran panjang, bahkan sejak dalam kandungan.

Membentuk anak menjadi pribadi yang baik merupakan buah kerja sama pengajaran Ibu dan Ayah (meski tak menutup kemungkinan jika hanya satu orang saja). Jika visi keluarga sudah direncanakan dengan matang, maka akan jelas bagaimana orang tua akan memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Ada yang ‘jalur hidup’ keluarganya merupakan keluarga pesantren, sehingga saat SMP sudah hafal genap 30 juz. Ada pula anak yang bersekolah di umum, namun saat liburan dipaksa untuk mengikuti daurah dan sejenisnya.

Kondisi lain, ada pula yang baru tersadar saat beranjak dewasa akan pentingnya menghafal Quran. Maka, atas dasar niat, ia berusaha dan Allah kuatkan hatinya untuk tidak berputus asa dalam mempelajari Al Quran. Mungkin memang lebih sulit karena sebelumnya belum terbiasa untuk intens berinteraksi dengan Quran, namun hikmahnya akan jauh lebih terasa, karena hidayah menyapa saat akalnya sampai. Kembali lagi kepada kemauan dan semangat memperbaiki diri.

Catatan lagi, perlu diingat bahwa mempelajari Al Quran, baik tadabbur Quran, membaca dengan baik, dan menghafalkannya, bukanlah masalah banyak-banyakan ilmu atau banyak-banyakan hafalan, tapi bagaimana untuk menyelaraskan antara ilmu yang didapatkan, hafalan yang menguat, dan refleksi dari apa yang telah dipelajari. Kalau kata ustadzah, apabila hafalan sudah disetor, maka tanggung jawab untuk memuraja’ah melekat sepanjang hidup.

Bagaimana kalau memang ditakdirkan untuk berada dalam keluarga yang bukan jalur pesantren? Ya syukuri saja. Merupakan suatu kenikmatan saat Allah memberi kita kesempatan untuk memperdalam Islam tanpa paksaan. Niatkan saja kalau sudah berkeluarga nanti akan memberikan pengajaran Islam yang terbaik bagi anak-anak.

Tenggilis Mejoyo, 13/06/2017 1:24

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s