Part 2 : Bertahan

[Post ini adalah kelanjutan dari Part 1 : Memilih dan Terpilih]

Setelah enam bulan tepat saya menjabat sebagai Pemimpin Umum Persma ITB, ada banyak hal yang saya pelajari, terutama memahami orang lain. Ya, yang saya pimpin adalah manusia, teman, sahabat. Bukan sekedar rekan kerja.

Setelah meyakinkan diri dalam-dalam, diskusi dengan Kak Mega, Kak Bayu, Kak Oti, Kak Fadil, Kak Cahya, sempat pula Kak Husein, saya berusaha untuk membenahi lubang ketidaksempurnaan dari Persma. Akan tetapi, tidak semudah itu. Persma selama ini berjalan diatas roda “kesamaan hobi antaranggota”. Sejujurnya, belum ada alur produksi dan pemberitaan yang mengikat.

Saya yang memang belum berpengalaman di dunia jurnalistik (khususnya masalah produksi) memang sedikit ragu. Melirik Kantor Berita ITB, Boulevard ITB, atau kilas berita-nya kabinet, memang ada beberapa perbedaan, tapi rasanya sama saja.

Saya kembali yakinkan diri, “Persma berbeda, Mut!”

Saya buka-bukaan aja soal ini.

Masalah mendasar dari sebuah dapur berita adalah menentukan produk. Dapat terbagi menjadi berbagai macam, seperti koran, web, majalah, e-paper, infografis, video singkat, video panjang, dan sebagainya. Di Persma, saya berencana untuk menerbitkan e-paper setiap bulan, cetak koran sebanyak tiga kali, dan rutin memperbaharui berita setiap minggu di web. Tidak ada acara besar.

Tapi, yang namanya organisasi, ada pasang surutnya. Kalau kata Faris, grafik pada kebanyakan organisasi akan naik, turun (bahkan bisa sampai minus), kemudian naik lagi. Entah dia dapat konsep dari mana, tapi saya sepakat. Apalagi untuk organisasi berbasis produksi, pekerjaan yang dilakukan harus lebih banyak lagi.

Ada tiga tujuan utama yang menjadi landasan saya dalam memimpin Persma, yaitu merutinkan produksi, menumbuhkan rasa kekeluargaan, dan dapat diterima oleh seluruh kalangan, atau yang saya sebut inklusif. Lalu turunlah menjadi proker dan organogram badan pengurus (awalnya tidak seperti saat ini, namun setelah terpilih akhirnya saya rombak berdasarkan hasil musyawarah). Terlihat simpel, dalam rancangannya memang sangat mulus.

Saya tidak menyangkal bahwa memang ada masalah dalam keberjalanan kepengurusan. Setelah saya menelaah, dasarnya adalah satu. Memahami orang lain.

Rupanya, kunci sukses memahami orang lain adalah komunikasi. Seindah apapun rencananya, jika sukses ingin diraih bersama, maka pesan harus disampaikan dan diterima dengan baik. Saya belajar untuk mendengarkan orang lain dengan baik, menerima kritik pedas namun sangat berarti, lalu berupaya menyampaikan pesan (terkadang perintah) kepada orang lain dengan baik pula.

Merekalah yang membuat saya bertahan untuk tetap berada di Persma, hingga lubang tertutup dengan sempurna.

1501130926781.JPEG
Yang kupahami, cinta adalah kata kerja. Apakah sama denganmu? šŸ™‚

29/07/17 10:40

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s